Semoga Hari Ini Lebih Baik Dari Hari Kemarin

Sabtu, 19 November 2011

HADROH PEKALONGAN


PERKEMBANGAN SENI REBANA SIMTHUDDUROR
Simthudduror yang telah banyak dikenal di Pekalongan sebagai salah satu bagian dari seni musik ritmis non melodis.Banyak berkembang di posisi pantai utara.
Perkembangan Duror di Kota Pekalongan berawal dari mulai tahun 1982. Dimana saat itu hanya dengan bacaan kitab Maulid Simthudduror dan pada tahun-tahun berikutnya ada perubahan dengan Rebana Genjring, yang mana rebana genjring ini telah ada lama di pekalongan dan menjadi rebana asli kota pekalongan. Pusat perkumpulan berkumpul di Masjid Wakaf Jl.Surabaya Pekalongan.Pada tahun 1984-an , pada saat ada acara Hial Al Habib Ahmad bin Abdul Al Atas di Sapuro Pekalongan ada acara arak-arakan rebana Banjar yang dibawakan oleh Jam’iyyah Maulid Al Muhibin dari TulungAgung Jawa Timur yang notabene adalah masyarakat kaum banjar,Banjarmasin Kalimantan Selatan yang bermukim di jawa. Akhirnya jamaah Maulid Pekalongan belajar kepada jam’iyyah Al Muhibin Banjar perwakilan di Semarang.
Dari hasil bacaan ini kemudian dikembangkan di pekalongan dengan sedikit penambahan dan variasi-variasi perpaduan Simthudduror rebana Banjar dan Simthudduror rebana Pekalongan. Perpaduan seni Banjar dan Pekalongan inilah yang kemudian berkembang dan lebih dikenal dengan seni Rebana Simthudduror.
Jadi “Duror”,adalah sebuah hasil karya seni paduan dua ritmis rebana dari Banjar dan Pekalongan.Pengambilan nama diambil dari nama kitab Maulid yang dibaca yaitu Kitab Maulid Simthudduror.
 

KEUNIKAN MUSIK
 

Keunikan Pada Alat Rebana
Seni rebana Simthudduror memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan seni rebana lain.Keunikan ini adalah sebagai berikut :
a.Jumlah rebana pokok yang dimainkan berjumlah 4 buah.
b.Ukuran rebana berdiameter 30 – 32 cm dengan bunyi atau suara yang sama.
c.Tiap – tiap rebana memiliki rumus pukulan yang berbeda – beda.
d.Nama-nama jenis pukulan / ketukan tersebut adalah merasuk,bergenjring,golong I dan golong II.
e.Masing-masing pukulan / ketukan saling berkaitan sehingga menghasilkan perpaduan ritmis yang dinamis.
f.Memiliki aturan baku atau pakem.
 


.Keunikan Pada Para Pemain



a. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu yang bertajuk pujian / sholawat kepad Nabi Muhammad   SAW dan lagu-lagu tentang ajakan berakhlak mulia / kebaikan
b. Lagu-lagu yang dibawakan biasanya berbirama 4/4.
c. Vokal bisa dibawakan perorangan bahkan bersamaan.
d. Para peserta biasanya berseragam busana muslim(Sarung + koko).
e. Pemain secara umum lebih dominan laki-laki.

f. Para pemain dalam satu group minimal adalah 4 pemain rebana ,1 vokal ,1 korr
(lebih banyak lebih baik).






ALAT – ALAT MUSIK YANG DIGUNAKAN
Alat yang digunakan 4 rebana berdiameter 30 – 32 cm dengan bunyi nada yang sama.

TOKOH – TOKOH MUSIK DAN PARA PEMAIN
Simthudduror memiliki organisasi yang berpusat di kota pekalongan dengan sekretariat di kauman ledok,di rumah Al Habib.
Karena banyaknya anggota Simthudduror maka,tiap –tiap daerah / kelurahan yang ada di pekalonngan yang membentuk group / jam’iyyah dengan nama-nama group / jam’iyyah sendiri.Tetapi group –group tersebut tetap didalam naungan jam’iyyah Maulid Simthud Kota Pekalongan di bawah pimpinan Al Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya.

Tokoh-tokoh pendiri simthudduror kota pekalongan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.Ustadz Umar Bunyamin
2.Ustadz Musyaffa’ Umar
3.Ustadz Tasaran Nadhirin
4.Ustadz Musyaddad Zain
5.Ustadz A.T. Surar, M.Ag
6.Ustadz M.Rozy S,Pd
7.d.l.l

FUNGSI MUSIK

Musik rebana Simthudduror memiliki fungsi sebagai pengiring lagu tetapi iringan ini memiliki aturan baku / pakem.

PERANAN MUSIK

Musik ritmis Simthudduror memiliki peran.Disamping sebagai pengiring lagu, juga memiliki peran sebagai pengisi disela-sela pembacaan Maulid Simthudduror sehingga dapat membantu mengantisipasi kejenuhan saat membaca Maulid yang cukup panjang.
 

dari berbagai sumber

Thanks to: 
- SMUN 3 pekalongan
- Bp.Ustadz Muhammad Rozi S,Pd - Seksi pendidikan dan pengkaderan jam’iyyah Maulid Simthudduror Kota Pekalongan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar